ILC Forum











{Juli 1, 2009}   Perempuan Lesbian di Indonesia

Kalau menjadi heterosexual adalah suatu hal yang dipandang biasa, sudah seharusnya dan normal, namun menjadi lesbian atau gay bukanlah suatu hal yang mudah.
Stigma Kuat

Stigma terhadap homoseksualitas dan lesbian sangatlah kuat dalam masyarakat. Homoseksual atau lesbian dicap oleh masyarakat yang menentangnya sebagai suatu bentuk penyimpangan atau ketidaknormalan. Bahkan pandangan yang lebih parah lagi adalah bahwa homosekualitas dan lesbianisme dianggap sebagai penyakit seperti penyakit kurap yang bisa diobati dan disembuhkan.
Beda Orientasi

Padahal apabila direnungkan lebih jauh, baik heteroseksual maupun homoseksual adalah manusia yang sama, yang membedakan hanyalah orientasi seksualnya saja. Ibaratnya ada orang yang menyukai nasi, dan ada yang menyukai roti. Apakah ini berarti yang menyukai roti itu menyimpang atau tidak normal?
Diskriminasi Ganda
Wina
“Masih banyaknya anggapan yang demikian, ditambah sikap sebagian masyarakat yang masih homofobi, maka perempuan lesbian di Indonesia harus sangat hati-hati dan cerdik dalam berkegiatan dan berjuang”.

“Perempuan lesbian mengalami diskriminasi ganda. Pertama sebagai perempuan dan kedua sebagai lesbian”. Demikian dikatakan Wina, ketua situs web lesbian Swara Srikandi.
Norma Masyarakat
Dalam struktur masyarakat patriarki ini, heterosekualitas telah menjadi standar, patokan atau norma untuk mengukur yang lainnya, sehingga apabila yang lain itu tidak sesuai dengan standar tersebut, maka disebutlah sebagai menyimpang atau salah. Ini juga dijadikan dasar pembenaran bagi pemberian stigma terhadap lesbianisme dan bahkan tindak kekerasan terhadap mereka.
Kekerasan

“Dari teman-teman kami tahu banyak yang mengalami kekerasan misalnya dari keluarga yang tidak bisa menerima atau dari tempat kerja yang tidak bisa menerima karena ketahuan orientasi seksualnya, maka ditekan untuk berhenti kerja”, demikian Wina.
Justru Alergi
Organisasi

“Tetapi yang juga disayangkan adalah bahwa organisasi-organisasi perempuan yang notabene berjuang membela kepentingan dan hak-hak perempuan, tidak banyak menunjukkan dukungan atau pandangan mereka terhadap kaum lesbian. Malah ada organisasi perempuan yang justru alergi kalau mendengar kata lesbian”, tambah Wina.

“Berbicara tentang kekerasan, sebetulnya organisasi perempuan juga secara tidak langsung melakukan kekerasan dengan melakukan diskriminasi terhadap lesbian”.
Tradisi Warok
Menurut Wina, mitos lain tentang homoseksualitas atau lesbianisme adalah bahwa hal itu merupakan fenomena Barat yang diimpor ke negara-negara Timur termasuk Indonesia.

Padahal dalam sejarah Indonesia sendiri, perilaku atau praktek homoseksualitas itu sudah ada sejak dulu.

“Misalnya tradisi warok atau orang-orang dari sebuah suku di daerah Sulawesi”.
Tak Mudah

Anggapan lainnya berkaitan dengan homoseksualitas yaitu bahwa menjadi lesbian atau gay itu seolah-olah adalah trend atau mode pakaian yang bisa dipakai dan dilepas kapan saja pemiliknya menghendaki. Padahal hidup

Ingkaran

sebagai lesbian bukanlah suatu kehidupan yang mudah dan enak, di tengah masyarakat ini. Stigma dan tekanan masyrakat justru menyebabkan banyak perempuan lesbian mencoba mengingkari dirinya sendiri, dalam arti mengingakri seksualitas dan orientasi seksual mereka.

( Disiarkan dalam acara Suara Perempuan, Senin 26 Agustus 2002).

Oleh: Juliani Wahjana, 30 Agustus 2002



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

et cetera
%d blogger menyukai ini: