ILC Forum











{Juli 1, 2009}   Situs Web Lesbian Pertama

“Srikandi melambangkan perempuan yang memiliki keberanian pribadi tapi lembut serta tidak melupakan martabatnya sebagai seorang perempuan. Ada sejumlah versi dalam wayang mengenai Srikandi ini, tapi yang jelas semuanya mengacu pada ‘keberanian’ seorang Srikandi. Oleh sebab itulah kita juga harus berani menerima diri kita sendiri untuk bisa menguasai ketakutan akan realitas bahwa kita berbeda dan unik”.
Demikian cuplikan kata-kata yang bisa kita baca dari website/situs web Swara Srikandi (www.swara.cjb.net). Swara Srikandi, website lesbian pertama, dibuat khususnya untuk melayani kebutuhan perempuan lesbian Indonesia. Website ini didirikan oleh empat relawan yang merasakan perlunya kebutuhan untuk menyatukan kaum lesbian Indonesia sehingga nantinya mereka bisa membentuk suatu komunitas.
Mendukung Pengembangan Diri
Masih banyak perempuan lesbian yang mengalami kesulitan baik dalam memahami maupun menerima diri sendiri berkaitan dengan orientasi seksual mereka. Di samping itu, di tengah masyarakat yang homophobi seperti di Indonesia, banyak dari perempuan lesbian juga mengalami kesulitan untuk mendapatkan teman atau kelompok lesbian. Oleh karena itulah, Swara Srikandi hadir, dengan harapan kebersatuan mereka bisa mendukung pengembangan diri perempuan lesbian.
Memberi Pemahaman
Dengan bersatu, mereka bisa pula melakukan hal-hal positip di masyarakat. Kehadiran Swara Srikandi juga dimaksudkan untuk memberi pemahaman yang benar kepada masyarakat heteroseksual tentang perempuan lesbian. “Lesbian adalah juga manusia biasa, yang tidak lebih rendah ataupun lebih tinggi dari yang lainnya. Yang membedakan kami hanyalah orientasi seksual saja”, demikian ditegaskan oleh Wina, ketua Swara Srikandi.
Pilihan Logis
“Internet merupakan pilihan yang logis karena teknologi ini memungkinkan para perempuan lesbian bertemu, berbicara, berkenalan, dan berdiskusi, tanpa harus membuka identitas diri mereka yang sebenarnya, apabila yang bersangkutan tidak bersedia” Demikian jelas Wina. Namun keterbatasannya adalah bahwa mereka yang memiliki akses ke internet saja yang bisa mengakses website tersebut.
Berbagai Kegiatan
Kegiatan Swara Srikandi tidak hanya terbatas pada website saja. Dalam masa dua tahun keberadaanya, Swara Srikandi telah melakukan berbagai kegiatan seperti mengadakan diskusi gender dan seksualitas, mengikuti konperensi dan workshop baik nasional maupun internasional, liburan bersama, dll. (disiarkan dalam Suara Perempuan, Senin 19 Agustus 2002) (19/08/2002)
Oleh: Juliani Wahjana, 30 Agustus 2002



{Juli 1, 2009}   Studi Gay/Lesbian

Oleh NURAINI JULIASTUTI

Sejak peristiwa Stonewall tahun 1969 (pembangkangan kaum homoseksual untuk memperjuangkan hak-haknya) dan bersamaan dengan gelombang kedua gerakan perempuan, homoseksualitas segera menjadi gerakan yang nyata. Tidak lagi takut-takut, tidak lagi tersembunyi. Sekaligus ia mulai dipertimbangkan sebagai bahan kajian studi.

Pada tahun 1950-an dan 1960-an, homoseksual dipelajari dari jarak yang objektif, tepatnya selalu dilihat dari perspektif heteroseksual. Sampai kemudian muncul generasi baru akademikus homoseksual muda yang mulai ambil peranan dalam studi ini. Mereka mempelajari homoseksualitas dengan penuh semangat empati.

Ken Plummer dalam kata pengantarnya untuk buku Modern Homosexualities (1992) mengatakan bahwa tulisan-tulisan tentang gay dan lesbian yang muncul sebelum tahun 1970-an tampak seperti sedang mencari pengertian diri. Beberapa bahkan bernada destruktif dan bersikap negatif terhadap hidup. Singkatnya, ia menyebabkan orang-orang benar-benar percaya bahwa mereka (gay dan lesbian) adalah termasuk golongan orang-orang sinting dan kesepian di dunia ini.

Tapi keadaan kemudian berubah dengan cepat. Sekarang tidak hanya jumlah buku tentang gay dan lesbian yang berlipat ganda (pada tahun 1969 tercatat hanya 500 judul buku, tapi pada tahun 1989 sudah melonjak menjadi 9000 judul buku), tapi juga jangkauan pertanyaan-pertanyaan penelitian yang lebih luas, penerapan berbagai disiplin ilmu yang semakin beraneka ragam, dan tentu saja jumlah pembaca yang semakin luas.

Bersamaan dengan lahirnya publikasi-publikasi awal yang radikal tentang gay dan lesbian, berlangsung pula perkembangan-perkembangan penting yaitu pelembagaan studi gay dan lesbian sebagai lapangan akademik profesional. Lambat laun bidang studi ini sudah mempunyai PhD-PhD sendiri, bahan-bahan bacaan khusus, profesor-profesor, pusat-pusat studi, konferensi-konferensi, dan mulai dijadikan mata kuliah di universitas.

Pada tahun 1970-an, bidang studi ini secara internasional dikenal luas dan mulai bisa dibandingkan dengan perkembangan studi perempuan atau studi etnisitas atau ras, meskipun tentu saja ukurannya masih lebih kecil karena lebih banyak stigma-stigma yang dikenakan di situ.

Universitas-universitas dan college-college terkemuka seperti Harvard, Princeton, Yale, Berkeley, MIT, Duke, Nottingham Trente University, mengadakan kuliah-kuliah tentang gay dan lesbian secara tetap. Universitas Utrecht bahkan mempunyai Pusat Studi Gay dan Lesbian. Konferensi-konferensi internasional tentang gay dan lesbian telah diadakan di Toronto, Denmark, London, New York, dan Amsterdam.

Di beberapa negara bahkan ada usaha-usaha yang lebih awal untuk memantapkan kajian studi ini. Beberapa yang bisa disebut disini adalah: Hirshfeld’s Institute di Jerman pada tahun 1920-an, beberapa pusat-pusat studi di Belanda, juga Institute for Homophile studies di Amerika, sebuah universitas alternatif yang pernah menerima lebih dari 1000 mahasiswa pada tahun akademik 1957-1958.

Kemapanan kajian studi gay dan lesbian juga ditandai dengan kelahiran jurnal-jurnal ilmiah bidang ini. Journal of Homosexuality pertama kali dipublikasikan pada tahun 1974 dan mengupas berbagai isu seperti remaja-remaja gay, orang-orang tua gay, dan lain-lain. Jurnal-jurnal lain yang banyak mengupas persoalan-persoalan gay dan lesbian adalah Journal of Gay and Lesbian Psychotheraphy, Journal of The History of Sexuality, European Gay Review, Lesbian Ethics, Signs, Feminists review, TRIVIA: A Journal of Ideas, atau Sexualities .

Tulisan-tulisan pertama yang muncul di luar universitas seringkali berupa artikel-artikel pendek di koran tentang kehidupan gay dan lesbian atau pamflet-pamflet kampanye. Buku-buku kumpulan artikel tersebut misalnya The Homosexual Dialectic, The Gay Liberation Book, The Lesbian Reader, atau A Lesbian Feminist Anthology. Kondisi di Indonesia sekarang mungkin bisa disamakan dengan keadaan diatas. Sampai saat ini di Indonesia belum banyak muncul literatur-literatur kajian studi tentang gay dan lesbian. Wacana tentang gay dan lesbian di negara ini hanya muncul secara rutin misalnya lewat majalah atau media-media intern perkumpulan-perkumpulan gay dan lesbian semacam Gaya Nusantara. Belum ada kaum akademikus di Indonesia yang mengkhususkan diri menulis tentan fenomena gay dan lesbian. Salah satu usaha penting untuk membawa wacana homoseksualitas di Indonesia ke tingkat yang lebih akademis adalah tulisan Dede Oetomo “Homoseksualitas di Indonesia” di Prisma (Juli 1991). Setelah itu belum ada lagi sesuatu yang penting dalam perkembangan studi gay dan lesbian di Indonesia.

* * *

Ada dua term utama dalam wacana homoseksualitas modern, yaitu: ‘closet’ (kloset) dan ‘coming out’ (keluar). Term ‘kloset’ digunakan sebagai metafor untuk menyatakan ruang privat atau ruang subkultur dimana seseorang dapat mendiaminya secara jujur, lengkap dengan keseluruhan identitasnya yang utuh. Sedangkan term ‘coming out’ digunakan untuk menyatakan ekspresi dramatis dari ‘kedatangan’ yang bersifat privat atau publik. Pemakaian term ‘closet’ dan ‘coming out’ disini bermakna sangat politis. Narasi ‘coming out of the closet’ menciptakan pemisahan antara individu-individu yang berada didalam dan diluar kloset. Kategori yang pertama diberi makna sebagai orang-orang yang menjalani hidupnya dengan kepalsuan, tidak bahagia, dan tertekan oleh posisi sosial yang diterima dari masyarakat. ‘Kloset’ kemudian bermakna strategi akomodasi dan pertahanan yang diproduksi untuk menghadapi norma-norma masyarakat heteroseksual di sekitarnya.

‘Closet Practice’ adalah respon terhadap strategi represif yang diterapkan oleh masyarakat heteroseksual untuk mengeluarkan homoseksual dari kehidupan masyarakat. Strategi ini mulai dilakukan pada tahun 1940-an, tapi kemudian mulai diintensifkan pada tahun 1950-an dan 1960-an. Hal ini memantapkan posisi ‘kloset’ sebagai konsep identitas seksual yang berbeda dan sebagai sebuah simbol kehidupan ganda.

Para teorisi di bidang ini misalnya adalah Dennis Altman, Ken Plummer, Mary McIntosh, Gayle Rubin, dan Jefrey Weeks. Dennis Altman menulis Homosexual: Liberation/Oppression (1971) yang lantas menjadi bahan perdebatan sampai 20 tahun berikutnya. Ia menyoroti penciptaan identitas baru dengan kelahiran gerakan lesbian dan gay, perbedaannya dengan masa lalu dan identitas politik mereka.

Studi ini lantas berkembang lebih jauh dengan penggabungan-penggabungan atau persilangan antara studi gay dan lesbian dengan berbagai disiplin ilmu yang lain. Pada tahun 1970-an, psikologi, sosiologi, dan sejarah menjadi kajian yang berpengaruh. Di bidang psikologi, Freedman menulis Homosexuals May Be Healthier Than Straights (1975). Ia menyatakan bahwa homoseksual adalah sesuatu yang normal, sama seperti orang-orang lain, dan mungkin bahkan lebih sehat dari kaum heteroseksual. Freedman kemudian juga memperkenalkan konsep utama ‘homophobia’ yang kemudian dilanjutkan dalam karya-karya Lesbian Psychologies (Boston Lesbian Psychologies Collective, 1987) dan Lesbianism:Affirming Non Traditional Roles (Rothblum & Cole, 1989). Topik penting yang dibahas dalam sosiologi adalah mengubah fokus dari memandang homoseksual sebagai salah satu tipe individu ke respon sosial terhadap homoseksualitas, yaitu perubahan konstruksi sosial homoseksualitas secara radikal. Karya-karya penting yang membahas topik ini misalnya: Sexual Stigma: An Interactionist Account (Ken Plummer, 1975), The Construction of Homosexuality (Greenberg, 1988), atau Forms of Desire:Sexual Orientation and The Social Constructionist Controversy (Stein, 1990). Perdebatan tentang tema ini terutama dipercepat oleh terbitnya seri History of Sexuality yang sangat berpengaruh karya Michel Foucault.

Dalam bidang sejarah bisa disebut buku karya Herdt yang berjudul Ritualized Homosexuality in Melanesia (1984), Passions Between Women (1993) karya Emma Donoghue yang membahas kebudayaan lesbian di Inggris tahun 1668-1801, atau The Wilde Century (1994) karya Alan Sinfield yang membahas tentang kehidupan gay Oscar Wilde yang hidup di masa Victorian di Inggris.

Mulai sepanjang tahun 1980-an ada perubahan tren dalam studi gay dan lesbian, yaitu perhatian yang besar kepada cultural studies dan persoalan AIDS. Persoalan AIDS dalam studi gay dan lesbian menjadi penting karena penyakit ini seringkali digunakan sebagai alat politis untuk menempatkan gay dan lesbian dalam posisi yang merugikan. Dan dalam beberapa hal terbukti bahwa menyerang kaum gay dan lesbian lewat isu kesehatan cukup ampuh, karena masyarakat biasanya dengan mudah membenarkan kekhawatiran terhadap penyakit serius semacam AIDS ini.

Perhatian yang besar terhadap cultural studies bisa terlihat dari berkembangbiaknya studi-studi kebudayaan gay dan lesbian dalam segala bentuk: film, TV, novel, karya-karya fiksi, biografi, musik, karya-karya seni, dan bentuk-bentuk kebudayaan populer lainnya. Bonnie Zimmerman misalnya menganalisa 200 karya fiksi lesbian yang dipublikasikan mulai tahun 1969-1989 dalam karyanya yang berjudul The Safe Sea of Women . Dengan perspektif yang sama Richard Dyer berusaha melacak perkembangan genre film-film gay dan lesbian dalam Now You See It (1991).

Bidang-bidang klasik lain dalam studi-studi lesbian dan gay modern adalah tentang komunitas dan persoalan identitas gay, seksualitas, pornografi, juga perubahan dan pergeseran konsep keluarga heteroseksual dengan adanya fenomena gay dan lesbian yang memelihara anak-anak mereka sendiri.

Termuat di Newsletter KUNCI No. 5, April 2000

Alamat halaman ini: http://kunci.or.id/esai/nws/05/gay.htm



Kalau menjadi heterosexual adalah suatu hal yang dipandang biasa, sudah seharusnya dan normal, namun menjadi lesbian atau gay bukanlah suatu hal yang mudah.
Stigma Kuat

Stigma terhadap homoseksualitas dan lesbian sangatlah kuat dalam masyarakat. Homoseksual atau lesbian dicap oleh masyarakat yang menentangnya sebagai suatu bentuk penyimpangan atau ketidaknormalan. Bahkan pandangan yang lebih parah lagi adalah bahwa homosekualitas dan lesbianisme dianggap sebagai penyakit seperti penyakit kurap yang bisa diobati dan disembuhkan.
Beda Orientasi

Padahal apabila direnungkan lebih jauh, baik heteroseksual maupun homoseksual adalah manusia yang sama, yang membedakan hanyalah orientasi seksualnya saja. Ibaratnya ada orang yang menyukai nasi, dan ada yang menyukai roti. Apakah ini berarti yang menyukai roti itu menyimpang atau tidak normal?
Diskriminasi Ganda
Wina
“Masih banyaknya anggapan yang demikian, ditambah sikap sebagian masyarakat yang masih homofobi, maka perempuan lesbian di Indonesia harus sangat hati-hati dan cerdik dalam berkegiatan dan berjuang”.

“Perempuan lesbian mengalami diskriminasi ganda. Pertama sebagai perempuan dan kedua sebagai lesbian”. Demikian dikatakan Wina, ketua situs web lesbian Swara Srikandi.
Norma Masyarakat
Dalam struktur masyarakat patriarki ini, heterosekualitas telah menjadi standar, patokan atau norma untuk mengukur yang lainnya, sehingga apabila yang lain itu tidak sesuai dengan standar tersebut, maka disebutlah sebagai menyimpang atau salah. Ini juga dijadikan dasar pembenaran bagi pemberian stigma terhadap lesbianisme dan bahkan tindak kekerasan terhadap mereka.
Kekerasan

“Dari teman-teman kami tahu banyak yang mengalami kekerasan misalnya dari keluarga yang tidak bisa menerima atau dari tempat kerja yang tidak bisa menerima karena ketahuan orientasi seksualnya, maka ditekan untuk berhenti kerja”, demikian Wina.
Justru Alergi
Organisasi

“Tetapi yang juga disayangkan adalah bahwa organisasi-organisasi perempuan yang notabene berjuang membela kepentingan dan hak-hak perempuan, tidak banyak menunjukkan dukungan atau pandangan mereka terhadap kaum lesbian. Malah ada organisasi perempuan yang justru alergi kalau mendengar kata lesbian”, tambah Wina.

“Berbicara tentang kekerasan, sebetulnya organisasi perempuan juga secara tidak langsung melakukan kekerasan dengan melakukan diskriminasi terhadap lesbian”.
Tradisi Warok
Menurut Wina, mitos lain tentang homoseksualitas atau lesbianisme adalah bahwa hal itu merupakan fenomena Barat yang diimpor ke negara-negara Timur termasuk Indonesia.

Padahal dalam sejarah Indonesia sendiri, perilaku atau praktek homoseksualitas itu sudah ada sejak dulu.

“Misalnya tradisi warok atau orang-orang dari sebuah suku di daerah Sulawesi”.
Tak Mudah

Anggapan lainnya berkaitan dengan homoseksualitas yaitu bahwa menjadi lesbian atau gay itu seolah-olah adalah trend atau mode pakaian yang bisa dipakai dan dilepas kapan saja pemiliknya menghendaki. Padahal hidup

Ingkaran

sebagai lesbian bukanlah suatu kehidupan yang mudah dan enak, di tengah masyarakat ini. Stigma dan tekanan masyrakat justru menyebabkan banyak perempuan lesbian mencoba mengingkari dirinya sendiri, dalam arti mengingakri seksualitas dan orientasi seksual mereka.

( Disiarkan dalam acara Suara Perempuan, Senin 26 Agustus 2002).

Oleh: Juliani Wahjana, 30 Agustus 2002



Jurnalis Kontributor: Mamik.

Jurnalperempuan.com-Jakarta. “Apabila dibaca secara harfiah, memisahkan teks dengan konteks, isi draf RUU APP seperti tidak membedakan perlakuan terhadap ekspresi cinta, kasih sayang dari relasi homoseksual dan heteroseksual. Jangan lupa bahwa sebagian besar masyarakat kita masih menganggap lesbian/lesbianisme sebagai pendosa, melawan takdir, melawan moral masyarakat, sebagai penyimpang, sakit jiwa, bahkan kriminal. Akibatnya, masyarakat seringkali meminggirkan, mendiskreditkan, mendiskriminasi dan bahkan melakukan kekerasan terhadap lesbian. Bahkan para lesbian sering mendapat kekerasan dari lingkungan terdekatnya, yaitu keluarga, ketika ia mengaku, “tertangkap tangan“, atau diketahui sebagai lesbian. Dengan demikian, maka sejatinya masyarakat, negara, tidak (akan) pernah memperlakukan lesbian/lesbianisme sama dengan heteroseksual, sebagaimana teks RUU APP. Karenanya, ancaman kriminalisasi terhadap ekspresi cinta, kasih sayang relasi lesbian sangatlah besar. Dalam kondisi penderaan dari segala arah ini, kami tidak butuh satu lagi alat formal, yaitu UU, yang akan kian menyudutkan kami.” Demikian sambutan dari Ketua Lembayung Institute (organisasi perempuan minoritas seksual, yang memperjuangkan seksualititas perempuan, khususnya lesbian sebagai subyek) dalam kegiatan Diskusi tentang “Seksualitas Perempuan Dalam Pornografi”, di Jakarta, 4 Maret lalu. Acara ini diselenggarakan untuk memperingati Hari Perempuan Internasional tanggal 8 Maret, yang dalam sejarahnya, Hari Perempuan Internasional merupakan hari dalam setahun di mana kaum perempuan di seluruh dunia mendesakan kepada masyarakat akan hak-hak politik dan sosialnya, dan menjadikannya sebagai titik pijak untuk meninjau ulang kemajuan dan kegagalan yang sejauh ini dialami mereka sebagai sebuah kaum. Hari Perempuan Internasional mempunyai akar dari tradisi radikal secara politis, dan seorang feminis sosialis pada tahun 1910 mengatakan bahwa hari ini bukanlah hari untuk merayakan sesuatu, melainkan ‘menoto-noto’ dan mengantisipasi seluruh perjuangan yang masih harus dilakukan. Maka diskusi ini dapat menjadi titik pijak bagi perempuan minoritas seksual, khususnya lesbian –sebagai the voiceless – untuk bersuara dan menentukan sikap terhadap RUU yang sangat mengancam hak sipil individu masyarakat dan khususnya mengancam hak seksual perempuan.

Diskusi tersebut dihadiri puluhan lesbian dan aktivis perempuan dengan Narasumber: Kamala Chandrakirana (Ketua Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan), Syarifah (feminis, aktivis lesbian, kriminolog), Debra H. Yatim (feminis, praktisi media), dan Bambang Sugiharto (dosen pasca FSRD ITB, ahli filsafat postmodern). Diskusi berjalan sangat menarik dan mengalir dengan moderator Masruchah (aktifis feminis, Sekjen KPI) dan Arum (aktifis feminis ).

Dalam makalahnya yang berjudul “Pornografi dan Kita”, Syarifah menegaskan bahwa memang benar seksualitas cair. Memang benar bahwa setiap manusia mempunyai seksualitasnya sendiri-sendiri. Memang benar bahwa orang-orang memiliki hak untuk menentukan seksualitasnya sendiri tanpa disertai oleh bermacam cap yang ‘menertawakan’ seksualitasnya itu. Memang benar seksualitas sebagai pengorganisasian sosial yang berhubungan dengan masalah perkelaminan, hasrat birahi, dorongan libido, identitas diri, tidak mengenal batas pinggir terjal yang mengharuskan heteroseksualitas menjadi yang paling benar dan kebenarannya layak dilembagakan, sehingga memperoleh hegemoninya tersendiri. Alias menjadi wacana tunggal yang harus didengar oleh semua telinga. Begitu juga dengan lesbianisme. Sebagai sebuah kualitas, seksualitas ini bukanlah yang terjebak di dalam perangkap dosa, kelainan kepribadian, ‘kesakitan’, ketidak wajaran, ketidak normalan, perbuatan menyimpang, kutukan alam, dan lain-lain sebutan yang menihilkan kehadirannya sebagai manusia. Banyak orang percaya pada mitos yang diturunkan oleh Freud tentang Vaginal Orgasm (orgasme perempuan yang semata-mata dicapai dengan penetrasi penis, alat kelamin laki –laki, ke dalam vagina), ketimbang temua Anne Koedt yang menyodorkan konsep Clitoric Orgasm (orgasme perempuan melalui klitoris). Mitos yang diturunkan Freud ini makin memperkental dominasi prinsip-prinsip heteroseksualitas, dan homoseksualitas dikondisikan menjadi seksualitas marjinal. Maka, lesbianisme menjadi pernyataan diri yang menakutkan, mengerikan, mengancam yang mapan, membangkrutkan moral masyarakat, menghentikan generasi penerus bangsa. Singkatnya, harus ditolak kehadirannya. Seksualitas perempuan harus heteroseksual. “Jika dunia heteroseksual memiliki pornografinya sendiri, maka itupun berlaku untuk dunia homoseksual (baca: Lesbian)”, kata Syarifah, ketika menjelaskan lesbian dan pornografi. Tetapi dalam dunia heteroseksual seringkali muncul representasi-representasi pornografi tentang lesbianisme menurut kaca mata heteroseksual. Misalnya ada adegan hubungan birahi antara dua perempuan, hubungan yang mengobyektifikasi perempuan yang satu oleh perempuan yang lainnya. Tetapi kemudian dimunculkan laki-laki yang mengambil sentral dan berpartisipasi ke dalam permainan seks mereka. Seakan-akan tanpa alat kemaluan laki-laki, adegan-adegan seks yang terjadi seperti kegiatan yang tak sempurna, kegiatan yang gagal mencapai klimaks. Lesbian yang direduksi pada kegiatan-kegiatan seks semata tampil dalam wajah heteroseksual. Yang berarti arti lesbianisme itu sendiri menjadi sangat absurd di depan mata penatapnya. Dan itulah yang dipahami oleh kebanyakan orang.

Dalam kaitannya dengan RUU Anti Pornografi dan Pornografi, Syarifah mempertanyakan, apakah apa yang dicanangkan dalam RUU Anti Pornografi tentang lesbian tidak berbalik menjadi pasal-pasal karet yang menjerat lesbianisme sebagai kegiatan terlarang keras di dalam ranah apapun? Syarifah melihat ada upaya pengelabuhan dalam draf RUU APP, seolah-olah lesbianisme diperbolehkan di wilayah privat, tetapi dilarang di wilayah publik. Tetapi siapa yang bisa menjamin bahwa wilayah privat tidak kemudian menjadi wilayah publik? Contoh, pasangan lesbian yang sedang bermesraan dikamar dengan jendela yang terbuka dan ada orang yang mengintip, maka ini dapat menjadi masalah publik. Lantaran isu yang disebar luaskan keliru mengenai lesbianisme, lantaran perempuan masih belum diakui hak-hak seksualnya, lantaran kita hidup di dalam dunia yang sarat dengan nilai-nilai diskriminatif terhadap kepentingan-kepentingan hidup perempuan, lantaran orang percaya bahwa heteroseksual adalah yang paling unggul kebenarannya, maka seorang perempuan yang menyandarkan kepalanya ke bahu perempuan lain dengan mesra di sebuah pekarangan rumah dapat dianggap berpornografi, bila publik mengetahui bahwa hal itu dilakukan oleh sepasang lesbian. Karena sikap masyarakat yang homofobik, UU Anti Pornografi dapat makin menghapuskan lesbianisme di segala ranah kehidupan.

Sebagai ketua institusi pengemban mandat untuk memastikan bahwa negara menjamin pemenuhan hak asasi perempuan, Kamala Chandrakirana meyakinkan peserta diskusi bahwa , “RUU APP ini bukan tentang pornografi. Arah dari RUU APP ini adalah kontrol terhadap seksualitas perempuan, bukan penanggulangan subordinasi manusia –dalam hal ini, perempuan – sebagai bentuk pelanggaran hak asasi manusia. Karena apabila kita menggunakan pendekatan HAM, maka seksualitas merupakan bagian yang tak terpisahkan dari hak dasar manusia, yang mencakup hak untuk mendapatkan kenikmatan seksual, hak untuk mempunyai dan mengekspresikan identitas seksual, serta hak untuk memegang kendali atas seksualitas pribadi, tanpa diskriminasi dan kekerasan. Dalam konteks ini, kontrol seksualitas seseorang, baik oleh negara maupun pelaku non negara, merupakan pelanggaran HAM “.

RUU APP juga bukan tentang pelarangan (regulasi) pornografi, karena definisi pornografi yang dipakai dalam RUU APP tidak memiliki dasar akademis. RUU APP ini memisahkan pornografi dengan pornoaksi (yang sesungguhnya konsep tidak pernah dikenal karena termasuk dalam pornografi), dan mencampur adukan pornografi dengan erotika dan kecabulan. Bambang Sugiharto (ahli filsafat postmodern) menyebut pendifinisian pornografi dan pornoaksi dalam RUU APP ini sebagai ‘kekacauan definisi’. Lebih lanjut ia mengatakan , “ Dasar konseptual di balik RUU itu mencampuradukkan berbagai terminologi secara serampangan antara pornografi, obsenitas, erotika, sensualitas dan ketelanjangan natural, yang mengakibatkan rincian-rinciannya terasa ganjil dan problematis”. Sementara Syarifah menyebutnya sebagai ‘ sumir, kabur, kayak capcay’.

RUU APP juga bukan tentang masalah moralitas, tetapi ini semata-mata urusan politis. Mengapa ini bisa terjadi? Di Indonesia saat ini , institusi negara sedang diperebutkan oleh berbagai pihak, termasuk yang menginginkan negara menjadi polisi moral yang mengkriminalisasi warganya yang berpandangan berbeda tentang seksualitas. Konsep berbangsa yang didasarkan pada asas pluralisme sedang ditantang dan sebuah hegemoni baru yang diskriminatif sedang dikerahkan. Ini semua terkait dengan mobilisasi kekuatan politik kaum fundamentalisme agama, yang sedang membuat kita amnesia terhadap budaya sendiri dan tidak memberikan ruang bagi kita untuk mengekspresikan jati diri kita sendiri. Mereka mengatakan bahwa kita tidak punya cara yang sama benarnya. Pembelaan kita terhadap hak seksual tidak terlepas dari pertarungan politik“, demikian penjelasan Kamala Chandrakirana dalam presentasinya tentang ’Hak Seksual Perempuan Lesbian’. Ditambahkan oleh beliau bahwa inilah momen yang baik buat kita mengeksplorasi tentang apa yang dimaksudkan dengan hak seksual, yang menjadi isu baru dalam perjuangan dan pembicaraan isu HAM internasional dan isu gerakan perempuan internasional.

Berbicara tentang seksualitas perempuan dalam pornografi, tidak dapat dipisahkan dari bagaimana media menggambarkan perempuan, menggambarkan lesbian/lesbianisme, pun juga perlu didiskusikan mengenai ‘ukuran-ukuran’ kepatutan dari suatu karya seni, karena kita percaya, ada batas yang jelas tentang seni dengan pornografi. Di dalam filsafat postmodern, mereka menolak subyek – obyek. Merujuk pada literatur feminis, konsep dasar dari definisi pornografi menurut Catherine MacKinnon dan Andrea Dworkin adalah subordinasi perempuan. Elemen-elemen subordinasi adalah (1) adanya hierarki, di mana ada pihak yang dalam posisi atas/tinggi dan bawah/rendah; (2) obyektifikasi, di mana manusia dihilangkan kemanusiaannya; dan (3) penundukan (submission), di mana yang lebih lemah tidak bisa menentukan sendiri apa yang terbaik bagi dirinya (self determination). Dengan demikian, apabila karya ‘seni’ itu menggambarkan, merepresentasikan perendahan, subordinasi terhadap perempuan, maka ia bukanlah karya seni, tetapi produk pornografi.

Debra H. Yatim, yang menjadi narasumber untuk tema ‘Peran Media Menggambarkan Seksualitas lesbian dan Pornografi’, mengatakan, “betapa kejamnya media massa terhadap lesbian! Di dalam media, lesbian sama saja tidak ada. Jika diijinkan untuk tampil kepermukaan, maka itu dalam nada mencemooh atau sebagai bahan gunjingan”. “Mengapa?”, tanya feminis yang juga praktisi media ini mengurai nilai- nilai misoginis dan patriakhal masyarakat yang merasuki dalam jiwa pemilik media dan pekerja media, dan sekaligus mengekalkannya. “Di antara perempuan yang paling dibenci adalah lesbian. Karena lesbian menolak peran tradisional ibu rumah tangga. Karena lesbianisme sangat mengancam bagi patriarkhi yang berkuasa. Kendati tidak masuk dalam politik praktis, lesbian sebagai kelompok menantang kerangka baku kehidupan seksual masyarakat, kerangka mana diusung sebagai harus dipatuhi. Karena mereka tidak mematuhinya maka lesbian sama saja mengatakan kepada status quo bahwa peraturannya sudah tidak mempan dan sudah saatnya harus diganti. Yang terjadi adalah bukannya diganti, peraturan malah ditambah mengekang lagi, contohnya kasus RUU APP yang kita diskusikan saat ini”. Sikap media yang heteroseksis paling tampak dari pengucilan dan marginalisasi berita atau informasi mengenai lesbianisme. Perempuan boleh tampil di dalam media iklan cuma mereka yang langsing, berkulit terang, berambut lurus dan panjang, dan tampak muda usia. Tugas satu-satunya perempuan semacam itu adalah menggaet laki-laki, kalau bisa sampai pelaminan. Jika suatu saat ada kebutuhan untuk menampilkan lesbian, ia akan digambarkan sebagai tidak ‘feminin’, bersikap jantan, tidak langsing, tidak mulus, kasar, dsb.

Salah satu cara paling efektif media massa mengucilkan gerakan perempuan dan lesbianisme sekaligus adalah menginsinuasi bahwa kaum feminis adalah lesbian. Harus diingat, kedua kategori berada di luar norma dan stereotip yang di ‘ijin’ kan oleh patriakhi atau hegemoni laki-laki yang memegang kendali media. Ini merupakan disinsentif sangat efektif bagi perempuan rata-rata untuk mau terlibat dalam gerakan perempuan dan feminisme. Pemecah belahannya ini berhasil karena seolah membedakan antara perempuan ‘sungguhan’ dengan perempuan ‘jadi-jadian’.

Salah satu fantasi di kalangan media adalah bahwa lesbian (dan aktifis perempuan) berkeinginan untuk menjadi laki-laki. Satu-satunya peluang bagi lesbianisme untuk ‘masuk’ dalam media mainstream adalah dalam majalah wanita yang glossy, dalam pemampangan mode/fashion yang high end alias mahal. Majalah Vogue paling sering menggunakan citra-citra lesbianisme untuk jualan busana, sepatu, tas dan barang lainnya. Menarik untuk dilihat bahwa cara-cara pemaparannya banyak ‘meminjam’ dari kaidah pornografi. Artinya, gaya perempuan bercinta dengan perempuan di dalam film XXX, atau gaya sadisme disajikan, sangat menonjol dalam fashion pages seperti ini. Ini satu-satunya kesempatan bagi lesbian untuk tampil tampil glamor di dalam media massa. Biasanya, media masa arus lazim akan menggambarkan lesbian sebagai sosok tragis, patah hati, berwajah tidak menarik dan tidak memahami mode yang terkini. Lagi-lagi ini melanggengkan stereotip yang dikonstruksikan oleh laki-laki, dan media yang berwajah laki-laki.

Perbincangan yang mengalir dalam diskusi kemudian bermuara pada analisa bahwa isu moralitas yang diusung kaum fundamentalis agama yang saat ini sedang bersenyama dengan militerisme dan politikus (baik yang di DPR dan eksekutif), sesungguhnya hanyalah upaya pencari kambing hitaman atas kegagalan dan ketidakmampuan mengatasi persoalan. Dan dalam masyarakat Indonesia, perempuan menjadi target pelampiasan kekesalan, dan pelampiasan itu dibungkus dengan kemasan ‘demi moralitas yang terancam’. Maka RUU APP ini jelas bukan untuk melindungi perempuan, tetapi justru menjadi alat kekerasan baru terhadap perempuan, karena, -jika diberlakukan-, akan mengkriminalisasi perempuan yang sesungguhnya adalah korban, -termasuk dan terutama lesbian-, karena lesbian di mata masyarakat merepresentasikan gambaran perempuan yang paling buruk, yang paling dibenci.

Pada diskusi ini, Lembayung Institute menegaskan kembali sikapnya: menolak pornografi (di segala ranahnya) karena pornografi adalah bentuk kekerasan terhadap perempuan. Namun berkaitan dengan RUU APP, Lembayung menolak isi RUU APP karena isinya bukan meregulasi pornografi, tidak melindungi perempuan, tetapi justru meregulasi seksualitas perempuan, menjadi instrumen kekerasan terhadap perempuan, dan hal ini jelas melanggar hak seksual perempuan yaitu hak mendapatkan kenikmatan seksual, hak untuk mempunyai dan mengekspresikan identitas seksual, serta hak memegang kendali atas seksualitas pribadi tanpa diskriminasi dan kekerasan. Lembayung Institute merekomendasikan adanya larangan tanpa toleransi atas produk-produk pornografi, baik kepada pihak pemroduksi, dan pihak-pihak lain yang mengambil keuntungan dari pornografi. Bahwasanya instrumen hukum nasional yang sudah ada terutama KUHPidana telah jauh tertinggal dan tidak memadai mengatasi kejahatan pornografi, sehingga harus segera diamandemen dengan memperjelas definisi pornografi, mempertepat sasaran kriminalisasi dan sasara perlindungan, yaitu perempuan dan anak-anak, serta disemangati oleh nilai-nilai yang menghormati keberagaman, menghormati hak asasi setiap orang/setiap kelompok, serta semangat untuk menempatkan setiap orang sebagai subyek yang utuh. Demikianlah hasil diskusi ini semoga bermafaat untuk perjuangan kita saat ini dan selanjutnya, guna terciptanya masyarakat yang berkeadilan bagi semua orang, dimana ada pengakuan, penghormatan, jaminan pemenuhan hak, dan keadilan bagi perempuan dengan preferensi seksual minoritas, khususnya lesbian.



{Juli 1, 2009}   Seputar Lesbianisme

Tidak semua kaum lesbian berpenampilan tomboy alias bergaya tak ubahnya laki-laki. Banyak juga dijumpai lesbian yang bergaya layaknya perempuan normal, yakni feminine. Demikian menurut Prof Koentjoro PhD, Guru Besar Psikologi UGM, seperti yang pernah dilansir Jawa Pos.

Dari soal karakter sikap dan prilaku, seorang lesbian merasa dirinya laki-laki tapi terjebak dalam tubuh perempuan. Prof Koentjoro menyebut bentuk mereka dengan istilah “priawan”. Ini tentunya kebalikan dari waria. Tipe tersebut akan cenderung mencari perempuan heteroseksual sebagai pasangan hidupnya.

Maksudnya, orientasi seksualnya dominan laki-laki. Namun, Berbeda halnya dengan lesbian murni. Adanya anggapan lesbian sebagai another sex, akan menjadikan mereka selalu mencari pasangan perempuan yang lesbian juga. Lesbian seperti itu, akan tampak sangat feminin. Seperti layaknya perempuan dalam tubuh perempuan. Bahkan, tingkah lakunya mungkin bisa saja lebih halus dari perempuan pada umumnya.

Ciri-ciri bagimana yang biasanya tampak? Pada umumnya, kaum homoseksual mempunyai sex role yang cenderung berubah-ubah. Karena itu, tampak pada lesbian, sifat gaya kelaki-lakiannya. Walaupun ini disembunyikan, namun akan tetap tampak karakter laki-lakinya. Itu hanya disebabkan lesbian cenderung lebih tertutup karena adanya tuntutan budaya yang mengarahkan pada tataran hidup normatif.

Tentu saja hal ini bisa dikatakan suatu kelainan. Dalam berhubungan seks dengan perempuan lain pun, mereka akan tetap bisa orgasme. Biasanya, mereka menggunakan alat bantu seksual. Menurut penelitian, ada juga kemungkinan, para lesbian ini awalnya hanya ingin merasakan nikmatnya berhubungan seksual, namun mereka takut mengalami kehamilan. Sebab itulah, mereka akhirnya jatuh ke dalamnya.

Selain itu, lesbian sangat rentan mengonsumsi narkoba. Awalnya, tentu saja hanya untuk berfantasi dan mencari sensasi. Itu biasa dilakukan agar mengundang gairah bagi para lesbian lainnya. Ini berbeda dari kasus perempuan tomboi yang hanya sekadar ingin tampil layaknya laki-laki.

Ada banyak faktor yang menyebabkan mereka jatuh ke masalah ini. Umumnya, faktor yang memengaruhi perempuan menjadi lesbian bisa disebabkan oleh pengalaman hidup. Mulai dari pola asuh orangtua, survive hidup, gaya hidup, sampai adanya unsur balas dendam.

Misalnya, peran ayah dalam rumah tangga yang kerap menyakiti ibunya. Atau, dirinya sendiri mungkin pernah disakiti oleh kalangan laki-laki. Itu dapat membangkitkan jiwa lesbianisme. Selain itu, bisa juga disebabkan oleh faktor hormonal. Hormon laki-lakinya lebih kuat daripada hormon perempuan.

Meski begitu, lesbian ini bisa saja disembuhkan. Asalkan, ada kemauan dan tekad yang kuat. Masa remaja adalah masa yang sangat rawan dan menjadi titik rentan munculnya lesbianisme. Bila itu terjadi, harus segera berkonsultasi kepada psikolog.

Akan menjadi sebuah kesalahan yang sangat fatal jika seorang perempuan mengaktualisasikan dirinya pada komunitas lesbian. Bila seorang lesbian ingin sembuh, terlebih dahulu seharusnya ia harus keluar dari komunitas lesbian. Dia tidak akan bisa sembuh, tapi malah akan lebih jauh terjerumus ke dalamnya.

Umumnya, komunitas lesbian ini sebenarnya hanyalah menjadi wadah rasa dan jiwa senasib-sepenanggungan. Sebelum adanya gejala adiksi (ketergantungan) itu muncul. Jika bergabung dengan komunitasnya, seorang lesbian justru akan semakin jauh terjerumus di dalamnya. (yz)



{Juli 1, 2009}   Sejarah Lesbianisme

Sejak peristiwa Stonewall tahun 1969 (pembangkangan kaum homoseksual untuk memperjuangkan hak-haknya) dan bersamaan dengan gelombang kedua gerakan perempuan, homoseksualitas segera menjadi gerakan yang nyata. Tidak lagi takut-takut, tidak lagi tersembunyi. Sekaligus ia mulai dipertimbangkan sebagai bahan kajian studi.
Pada tahun 1950-an dan 1960-an, homoseksual dipelajari dari jarak yang objektif, tepatnya selalu dilihat dari perspektif heteroseksual. Sampai kemudian muncul generasi baru akademikus homoseksual muda yang mulai ambil peranan dalam studi ini. Mereka mempelajari homoseksualitas dengan penuh semangat empati.
Ken Plummer dalam kata pengantarnya untuk buku Modern Homosexualities (1992) mengatakan bahwa tulisan-tulisan tentang gay dan lesbian yang muncul sebelum tahun 1970-an tampak seperti sedang mencari pengertian diri. Beberapa bahkan bernada destruktif dan bersikap negatif terhadap hidup. Singkatnya, ia menyebabkan orang-orang benar-benar percaya bahwa mereka (gay dan lesbian) adalah termasuk golongan orang-orang sinting dan kesepian di dunia ini.
Tapi keadaan kemudian berubah dengan cepat. Sekarang tidak hanya jumlah buku tentang gay dan lesbian yang berlipat ganda (pada tahun 1969 tercatat hanya 500 judul buku, tapi pada tahun 1989 sudah melonjak menjadi 9000 judul buku), tapi juga jangkauan pertanyaan-pertanyaan penelitian yang lebih luas, penerapan berbagai disiplin ilmu yang semakin beraneka ragam, dan tentu saja jumlah pembaca yang semakin luas.

Bersamaan dengan lahirnya publikasi-publikasi awal yang radikal tentang gay dan lesbian, berlangsung pula perkembangan-perkembangan penting yaitu pelembagaan studi gay dan lesbian sebagai lapangan akademik profesional. Lambat laun bidang studi ini sudah mempunyai PhD-PhD sendiri, bahan-bahan bacaan khusus, profesor-profesor, pusat-pusat studi, konferensi-konferensi, dan mulai dijadikan mata kuliah di universitas.
Pada tahun 1970-an, bidang studi ini secara internasional dikenal luas dan mulai bisa dibandingkan dengan perkembangan studi perempuan atau studi etnisitas atau ras, meskipun tentu saja ukurannya masih lebih kecil karena lebih banyak stigma-stigma yang dikenakan di situ.
Universitas-universitas dan college-college terkemuka seperti Harvard, Princeton, Yale, Berkeley, MIT, Duke, Nottingham Trente University, mengadakan kuliah-kuliah tentang gay dan lesbian secara tetap. Universitas Utrecht bahkan mempunyai Pusat Studi Gay dan Lesbian. Konferensi-konferensi internasional tentang gay dan lesbian telah diadakan di Toronto, Denmark, London, New York, dan Amsterdam.
Di beberapa negara bahkan ada usaha-usaha yang lebih awal untuk memantapkan kajian studi ini. Beberapa yang bisa disebut disini adalah: Hirshfeld’s Institute di Jerman pada tahun 1920-an, beberapa pusat-pusat studi di Belanda, juga Institute for Homophile studies di Amerika, sebuah universitas alternatif yang pernah menerima lebih dari 1000 mahasiswa pada tahun akademik 1957-1958.
Kemapanan kajian studi gay dan lesbian juga ditandai dengan kelahiran jurnal-jurnal ilmiah bidang ini. Journal of Homosexuality pertama kali dipublikasikan pada tahun 1974 dan mengupas berbagai isu seperti remaja-remaja gay, orang-orang tua gay, dan lain-lain. Jurnal-jurnal lain yang banyak mengupas persoalan-persoalan gay dan lesbian adalah Journal of Gay and Lesbian Psychotheraphy, Journal of The History of Sexuality, European Gay Review, Lesbian Ethics, Signs, Feminists review, TRIVIA: A Journal of Ideas, atau Sexualities.
Tulisan-tulisan pertama yang muncul di luar universitas seringkali berupa artikel-artikel pendek di koran tentang kehidupan gay dan lesbian atau pamflet-pamflet kampanye. Buku-buku kumpulan artikel tersebut misalnya The Homosexual Dialectic, The Gay Liberation Book, The Lesbian Reader, atau A Lesbian Feminist Anthology. Kondisi di Indonesia sekarang mungkin bisa disamakan dengan keadaan diatas. Sampai saat ini di Indonesia belum banyak muncul literatur-literatur kajian studi tentang gay dan lesbian. Wacana tentang gay dan lesbian di negara ini hanya muncul secara rutin misalnya lewat majalah atau media-media intern perkumpulan-perkumpulan gay dan lesbian semacam Gaya Nusantara. Belum ada kaum akademikus di Indonesia yang mengkhususkan diri menulis tentan fenomena gay dan lesbian. Salah satu usaha penting untuk membawa wacana homoseksualitas di Indonesia ke tingkat yang lebih akademis adalah tulisan Dede Oetomo “Homoseksualitas di Indonesia” di Prisma (Juli 1991). Setelah itu belum ada lagi sesuatu yang penting dalam perkembangan studi gay dan lesbian di Indonesia.
* * *
Ada dua term utama dalam wacana homoseksualitas modern, yaitu: ‘closet’ (kloset) dan ‘coming out’ (keluar). Term ‘kloset’ digunakan sebagai metafor untuk menyatakan ruang privat atau ruang subkultur dimana seseorang dapat mendiaminya secara jujur, lengkap dengan keseluruhan identitasnya yang utuh. Sedangkan term ‘coming out’ digunakan untuk menyatakan ekspresi dramatis dari ‘kedatangan’ yang bersifat privat atau publik. Pemakaian term ‘closet’ dan ‘coming out’ disini bermakna sangat politis. Narasi ‘coming out of the closet’ menciptakan pemisahan antara individu-individu yang berada didalam dan diluar kloset. Kategori yang pertama diberi makna sebagai orang-orang yang menjalani hidupnya dengan kepalsuan, tidak bahagia, dan tertekan oleh posisi sosial yang diterima dari masyarakat. ‘Kloset’ kemudian bermakna strategi akomodasi dan pertahanan yang diproduksi untuk menghadapi norma-norma masyarakat heteroseksual di sekitarnya.

‘Closet Practice’ adalah respon terhadap strategi represif yang diterapkan oleh masyarakat heteroseksual untuk mengeluarkan homoseksual dari kehidupan masyarakat. Strategi ini mulai dilakukan pada tahun 1940-an, tapi kemudian mulai diintensifkan pada tahun 1950-an dan 1960-an. Hal ini memantapkan posisi ‘kloset’ sebagai konsep identitas seksual yang berbeda dan sebagai sebuah simbol kehidupan ganda.
Para teorisi di bidang ini misalnya adalah Dennis Altman, Ken Plummer, Mary McIntosh, Gayle Rubin, dan Jefrey Weeks. Dennis Altman menulis Homosexual: Liberation/Oppression (1971) yang lantas menjadi bahan perdebatan sampai 20 tahun berikutnya. Ia menyoroti penciptaan identitas baru dengan kelahiran gerakan lesbian dan gay, perbedaannya dengan masa lalu dan identitas politik mereka.
Studi ini lantas berkembang lebih jauh dengan penggabungan-penggabungan atau persilangan antara studi gay dan lesbian dengan berbagai disiplin ilmu yang lain. Pada tahun 1970-an, psikologi, sosiologi, dan sejarah menjadi kajian yang berpengaruh. Di bidang psikologi, Freedman menulis Homosexuals May Be Healthier Than Straights (1975). Ia menyatakan bahwa homoseksual adalah sesuatu yang normal, sama seperti orang-orang lain, dan mungkin bahkan lebih sehat dari kaum heteroseksual. Freedman kemudian juga memperkenalkan konsep utama ‘homophobia’ yang kemudian dilanjutkan dalam karya-karya Lesbian Psychologies (Boston Lesbian Psychologies Collective, 1987) dan Lesbianism:Affirming Non Traditional Roles (Rothblum & Cole, 1989).
Topik penting yang dibahas dalam sosiologi adalah mengubah fokus dari memandang homoseksual sebagai salah satu tipe individu ke respon sosial terhadap homoseksualitas, yaitu perubahan konstruksi sosial homoseksualitas secara radikal. Karya-karya penting yang membahas topik ini misalnya: Sexual Stigma: An Interactionist Account (Ken Plummer, 1975), The Construction of Homosexuality (Greenberg, 1988), atau Forms of Desire:Sexual Orientation and The Social Constructionist Controversy (Stein, 1990). Perdebatan tentang tema ini terutama dipercepat oleh terbitnya seri History of Sexuality yang sangat berpengaruh karya Michel Foucault.

Dalam bidang sejarah bisa disebut buku karya Herdt yang berjudul Ritualized Homosexuality in Melanesia (1984), Passions Between Women (1993) karya Emma Donoghue yang membahas kebudayaan lesbian di Inggris tahun 1668-1801, atau The Wilde Century (1994) karya Alan Sinfield yang membahas tentang kehidupan gay Oscar Wilde yang hidup di masa Victorian di Inggris.
Mulai sepanjang tahun 1980-an ada perubahan tren dalam studi gay dan lesbian, yaitu perhatian yang besar kepada cultural studies dan persoalan AIDS. Persoalan AIDS dalam studi gay dan lesbian menjadi penting karena penyakit ini seringkali digunakan sebagai alat politis untuk menempatkan gay dan lesbian dalam posisi yang merugikan. Dan dalam beberapa hal terbukti bahwa menyerang kaum gay dan lesbian lewat isu kesehatan cukup ampuh, karena masyarakat biasanya dengan mudah membenarkan kekhawatiran terhadap penyakit serius semacam AIDS ini.
Perhatian yang besar terhadap cultural studies bisa terlihat dari berkembangbiaknya studi-studi kebudayaan gay dan lesbian dalam segala bentuk: film, TV, novel, karya-karya fiksi, biografi, musik, karya-karya seni, dan bentuk-bentuk kebudayaan populer lainnya. Bonnie Zimmerman misalnya menganalisa 200 karya fiksi lesbian yang dipublikasikan mulai tahun 1969-1989 dalam karyanya yang berjudul The Safe Sea of Women. Dengan perspektif yang sama Richard Dyer berusaha melacak perkembangan genre film-film gay dan lesbian dalam Now You See It (1991).
Bidang-bidang klasik lain dalam studi-studi lesbian dan gay modern adalah tentang komunitas dan persoalan identitas gay, seksualitas, pornografi, juga perubahan dan pergeseran konsep keluarga heteroseksual dengan adanya fenomena gay dan lesbian yang memelihara anak-anak mereka sendiri.



et cetera
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.